۞ Ψ§ΩΨ³َّΩΩΩΩΩΩΩΨ§َΩ
ُ ΨΉَΩَΩْΩΩΩΩΩΩΩُΩ
ْ
ΩَΨ±َΨْΩ
َΩΩΨ©ُ Ψ§ΩΩΩΩΩΩΩِ ΩَΨ¨َΨ±َΩَΨ§ΨͺُΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩُ ۞
۞ Ψ¨Ψ³ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Ψ§ΩΩّΩΩΩΩ
Ψ§ΩΨ±ّΨΩ
ٰΩ
Ψ§ΩΨ±ّΨΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
۞
-----------------------------------------------------------------------
Kiyai Nyentrik Dan Pengawal Guru Tua
Opini > Tajuk Pembaca
Sember : http://harianmercusuar.com/KH. Nawawian Abdullah dikenal sebagai tokoh ulama yang sangat dihormati dan cukup popular di Kota Palu. Penampilan khasnya selalu memakai kopiah warna putih dengan stelan jas berlapis kemeja di bagian dalam. Sedangkan ban pinggang warna coklat berasesoris hijau yang selalu terlilit di pinggangnya membuat penampilan yang “nyentrik”, tapi menjadi asesoris penambah kewibawaan tersendiri. Masa hidupnya termasuk perokok berat, terutama merek Star Mild jenis rokok kegemaran anak-anak muda masa kini.
Semasa hidupnya, betul-betul diabadikan untuk dakwah hingga usianya terbilang tua dibanding orang sesusianya. Tapi semangat dan keteguhan hati, penuh semangat bahkan suara seraknya terbilang lantang setiap ceramah. Minimal seminggu empat kali tampil memberi ceramah di berbagai kegiatan, apalagi setelah lebaran Idul Fitri pasti mendapat undangan membawa hikmah halal bi halal. Sedangkan ceramah rutin setiap hari Jumat di Masjid Nur Palu, sebelum khatib membacakan khotbah, Ustad Nawawi tampil memberikan siraman rohani sekitar 10-15 menit berbagai persoalan umat.
Hal itu pernah dilakoninya selama 30-an tahun lebih. Kemudian dua tahun terakhir ia memang tak pernah lagi menghadiri berbagai acara. Disebabkan usia yang makin tua, sehingga hari-harinya lebih banyak istrahat di rumah hingga sosok sang kiyai sepuh itu tak bisa lagi ditemui. Ia telah berpulang ke Rahmatullah menghadap sang khalik. Jenazahnya dimakamkan, Ahad 6 November 2010.
Kepergiannya menjadi kenangan dan kerinduan akan petuah-petuahnya yang selalu membuka pencerahan bagi yang mendengarkan di berbagai acara. Kecintaan umat pada almarhum Nawawian Abdullah itu terlihat dengan kehadirian ribuan pelayat dan mengantar jenazah sebagai bentuk ungkapan kecintaan pada sang kiyai. Innalillahi wa Inna Ilahi Rajiun.
Kebetulan sewaktu Nawawian masih sehat, beberapa kali penulis temui di kediamannya, di Kampung (Kelurahan) Baru, Palu Barat. Pada suatu pertemuan penulis sempat wawancara sekaligus memperoleh cerita-cerita tentang pengalaman perjalanan kariernya sebagai guru, ulama yang lahir dari tempaan Guru Tua. Dari catatan penulis, inilah murid tertua Guru Tua yang terakhir meninggalkan kita semua.
Berjumpa dengan Nawawian Abdullah semasa hidupnya sangat berkesan dengan keramahannya dan selalu menyapa tamunya dengan sebutan Anak menunjukkan kebersahajaan. Dalam catatan kelahirannya sendiri ada dua versi. Disebabkan tidak adanya catatan tertulis dari orangtuanya. Versi pertama tahun 1922, dan versi kedua tanggal 16 Februari 1924 yang kemudian dipakai dalam surat kepegawaiannya di Departemen Agama Kabupaten Donggala.
Untuk mengetahui apa dan bagaimana pengalaman dan kesannya dengan Guru Tua, berikut ini wawancara dengan Nawawian Abdullah semasa hidupnya. Berikut petikanya:
Sebagai murid tertua Guru Tua, bagaimana pengalaman Ustad selama mendampingi beliau?
Saya sebagai salah seorang murid Guru Tua, saya bersama dengan beliau sejak tahun 1935. Saya belajar dengan dia, dan tiga tahun kemudian yaitu tahun 1938 saya menjadi pengawalnya, mendampinginya ke Pantai Timur dalam rangka sebagai pendakwah dan juga beliau sebagai pedagang berupa sarung Donggala yang dia bawa. Kita mulai berangkat dari Palu, menuju Parigi, terus ke Ampibabo, Tinombo, Tomini, hingga ke Moutong. Kita naik gerobak dari Palu ke seluruh kawasan di Pantai Timur. Bayangkan satu minggu baru sampai. Kemudian dari Moutong, kita ke Gorontalo sudah naik motor. Disambut jamaah Gorontalo, tahun itu kami berangkat dengan kapal Singkel menuju Pulau Una-Una, Kololio dan kemudian di Ampana selama sebulan untuk dakwah.
Setelah itu, perjalanan selanjutnya?
Dari sini (Ampana, red) kita berangkat lagi ke Luwuk, di sana ada keponakannya bernama Abdurahman bin Syech Aldjufri, anak dari saudaranya. Di sana punya sekolah, namanya Assawab, kemudian diubah menjadi Alkhairaat waktu itu. Waktu itu, saya ditahan Abdurahman menjadi pembantunya di Luwuk sebagai guru bantu selama tiga tahun. Setelah selesai mengajar di Luwuk, saya pun berkeinginan kembali ke Palu, tapi sewaktu singgah di Poso, saya ditahan untuk menjadi imam masjid di kota itu dari tahun 1941 sampai 1942.
Ketika itu masih bujang?
Ya, masih bujang, belum kawin. Dua tahun di Poso menjadi imam dan juga mengajar. Begitu saya tinggalkan Poso, sudah ada pengganti dari Gorontalo. Saya kembali ke Palu, maka belajar lagi di Alkhairaat, kemudian tahun 1949 saya diangkat menjadi guru di Manado, yaitu selama tiga tahun. Setelah itu, saya belum pulang, tapi langsung ke Sangir Talaud menggantikan guru yang sudah berhenti, namanya ustad MS.Patimbang, dia tinggalkan Sangir karena ingat anaknya di Palu, maka saya menggantikannya. Saya di Sangir Talaud selama dua tahun. Kemudian kembali ke Palu yang selanjutnya saya diangkat menjadi pegawai Kantor Agama Kabupaten Donggala tahun 1952. Saya cukup lama bekerja di Depag, pensiun tahun 1979.
Adakah pengalaman unik, pernah dimarahi Guru Tua misalnya?
Oh, tidak pernah. Guru Tua, kalau ada kesalahan saya, ia hanya memberitahukan dengan menegur langsung. Tentunya dalam bahasa Arab, sebab seluruh muridnya waktu itu menguasai bahasa Arab.
Apa saja kegemaran Guru Tua di luar sebagai pendakwah?
Hobinya Guru Tua itu adalah menyaksikan permainan sepakbola. Sehingga di sekolah Alkhairaat dulu itu ada sebuah klub sepakbola tahun 40-an, termasuk kakak saya (Abdullah Hay) pemainnya. Bahkan, ia memanggil anak-anak untuk bermain bola, ia turun ke lapangan melakukan koordinasi dan menyaksikan langsung.
Di bidang kesenian bagaimana?
Di bidang kesenian sebagaimana biasa, kan orang-orang Arab kalau kawin, ada Jepeng. Guru Tua sangat senang itu, saya pun demikian, bahkan saya mencipta musik Jepeng. Selain itu, beliau juga seorang penyair yang dikarang sendiri dalam bahasa Arab yang diajarkan pada murid-muridnya, juga syair-syair karya orang lain. Apalagi memang ada pelajaran yang khusus syair yang dihafal, seperti ada syairnya berisi nasehat, seperti begini; “Ilmu itu harus diburu dan menulis itu sebagai ikatannya, jangan hanya dihafal, tapi diikat dengan tali yang kuat.” Maksudnya ditulis agar bisa kau miliki ilmu itu jangan sampai lepas, harus dihafal pula sampai mati.
Tapi, kenapa Guru Tua tidak menulis kitab-kitab pelajaran?
Oh, ya, sebetulnya bisa menulis, sebab kalau menulis di papan tulis bukan main gagahnya tulisannya. Cuma memang tidak menulis buku pelajaran, tapi anak muridnya itu seperti Mahfud Godal, Rustam Arsyad, Qasim Maragau, Abdullah Hay Abdullah itu menulis untuk diajarkan. Bagaimana pun juga Guru Tua itu pandangannya sangat luas, tidak lepas dari soal-soal politik, budaya dan lainnya. Beliau selalu menginginkan semua berjalan dengan baik jangan sampai ada kerusuhan, keonaran partai satu dengan partai lainnya.
Bagaimana posisi Guru Tua terhadap partai-partai yang ada waktu itu?
Guru Tua tidak berpartai, tidak punya partai. Artinya umat Islam harus diingat seluruhnya kalau berpartai, jangan sampai hanya partai tertentu saja nanti. Bagi muridnya, terserah akan pilihan politiknya. Dari Guru Tua sendiri tidak ada menganjurkan, tergantung muridnya, karena Guru Tua ingin mengayomi semua umat.
Hubungan Guru Tua terhadap pemeluk agama lain, bagaimana?
Guru Tua itu sangat menganjurkan, ketika saya tinggal di Poso, beliau menyampaikan untuk bergaul dengan orang Kristen. Saya waktu itu dengan Raja Wongko Talassa (Raja Poso) selalu dipanggil dan sangat baik hubungan saya. Soal agama, lakum diinukum waliyadin: untukmu agamamu, untukku agamaku.
Pengalaman tentang kedisiplinan dengan Guru Tua?
Soal kedisiplinan Guru Tua memang sangat disiplin. Kalau ada sesuatu hal, saya dipanggil, karena saya sebagai pengawalnya lebih sepuluh tahun. Pada saat saya sakit, sebagai pengawal digantikan oleh Syakir Hubaib yang kemudian dipanggil oleh Guru Tua untuk naik haji bersama Hasbullah.
Apakah ada pesan khusus Guru Tua terhadap ustad sendiri?
Ya, ada, waktu saya di Manado; dikatakannya, Anda sekarang harus bekerja baik, karena hubungan manusia ini hanya ada dua. Kalau hubungannya dengan Tuhan baik, maka hubungan baik juga dengan manusia walaupun manusia lain agamanya. Bahkan walaupun manusia yang tidak punya agama, kita harus berhubungan baik, kita harus memberi contoh yang baik sebagai panutan. Dengan demikian, kata Guru Tua mungkin orang akan tertarik dengan kita, itu pesan Guru Tua sama saya.*
Penulis adalah Pemerhati Masalah Sosial dan Budaya
Opini > Tajuk Pembaca
Sember : http://harianmercusuar.com/KH. Nawawian Abdullah dikenal sebagai tokoh ulama yang sangat dihormati dan cukup popular di Kota Palu. Penampilan khasnya selalu memakai kopiah warna putih dengan stelan jas berlapis kemeja di bagian dalam. Sedangkan ban pinggang warna coklat berasesoris hijau yang selalu terlilit di pinggangnya membuat penampilan yang “nyentrik”, tapi menjadi asesoris penambah kewibawaan tersendiri. Masa hidupnya termasuk perokok berat, terutama merek Star Mild jenis rokok kegemaran anak-anak muda masa kini.
Semasa hidupnya, betul-betul diabadikan untuk dakwah hingga usianya terbilang tua dibanding orang sesusianya. Tapi semangat dan keteguhan hati, penuh semangat bahkan suara seraknya terbilang lantang setiap ceramah. Minimal seminggu empat kali tampil memberi ceramah di berbagai kegiatan, apalagi setelah lebaran Idul Fitri pasti mendapat undangan membawa hikmah halal bi halal. Sedangkan ceramah rutin setiap hari Jumat di Masjid Nur Palu, sebelum khatib membacakan khotbah, Ustad Nawawi tampil memberikan siraman rohani sekitar 10-15 menit berbagai persoalan umat.
Hal itu pernah dilakoninya selama 30-an tahun lebih. Kemudian dua tahun terakhir ia memang tak pernah lagi menghadiri berbagai acara. Disebabkan usia yang makin tua, sehingga hari-harinya lebih banyak istrahat di rumah hingga sosok sang kiyai sepuh itu tak bisa lagi ditemui. Ia telah berpulang ke Rahmatullah menghadap sang khalik. Jenazahnya dimakamkan, Ahad 6 November 2010.
Kepergiannya menjadi kenangan dan kerinduan akan petuah-petuahnya yang selalu membuka pencerahan bagi yang mendengarkan di berbagai acara. Kecintaan umat pada almarhum Nawawian Abdullah itu terlihat dengan kehadirian ribuan pelayat dan mengantar jenazah sebagai bentuk ungkapan kecintaan pada sang kiyai. Innalillahi wa Inna Ilahi Rajiun.
Kebetulan sewaktu Nawawian masih sehat, beberapa kali penulis temui di kediamannya, di Kampung (Kelurahan) Baru, Palu Barat. Pada suatu pertemuan penulis sempat wawancara sekaligus memperoleh cerita-cerita tentang pengalaman perjalanan kariernya sebagai guru, ulama yang lahir dari tempaan Guru Tua. Dari catatan penulis, inilah murid tertua Guru Tua yang terakhir meninggalkan kita semua.
Berjumpa dengan Nawawian Abdullah semasa hidupnya sangat berkesan dengan keramahannya dan selalu menyapa tamunya dengan sebutan Anak menunjukkan kebersahajaan. Dalam catatan kelahirannya sendiri ada dua versi. Disebabkan tidak adanya catatan tertulis dari orangtuanya. Versi pertama tahun 1922, dan versi kedua tanggal 16 Februari 1924 yang kemudian dipakai dalam surat kepegawaiannya di Departemen Agama Kabupaten Donggala.
Untuk mengetahui apa dan bagaimana pengalaman dan kesannya dengan Guru Tua, berikut ini wawancara dengan Nawawian Abdullah semasa hidupnya. Berikut petikanya:
Sebagai murid tertua Guru Tua, bagaimana pengalaman Ustad selama mendampingi beliau?
Saya sebagai salah seorang murid Guru Tua, saya bersama dengan beliau sejak tahun 1935. Saya belajar dengan dia, dan tiga tahun kemudian yaitu tahun 1938 saya menjadi pengawalnya, mendampinginya ke Pantai Timur dalam rangka sebagai pendakwah dan juga beliau sebagai pedagang berupa sarung Donggala yang dia bawa. Kita mulai berangkat dari Palu, menuju Parigi, terus ke Ampibabo, Tinombo, Tomini, hingga ke Moutong. Kita naik gerobak dari Palu ke seluruh kawasan di Pantai Timur. Bayangkan satu minggu baru sampai. Kemudian dari Moutong, kita ke Gorontalo sudah naik motor. Disambut jamaah Gorontalo, tahun itu kami berangkat dengan kapal Singkel menuju Pulau Una-Una, Kololio dan kemudian di Ampana selama sebulan untuk dakwah.
Setelah itu, perjalanan selanjutnya?
Dari sini (Ampana, red) kita berangkat lagi ke Luwuk, di sana ada keponakannya bernama Abdurahman bin Syech Aldjufri, anak dari saudaranya. Di sana punya sekolah, namanya Assawab, kemudian diubah menjadi Alkhairaat waktu itu. Waktu itu, saya ditahan Abdurahman menjadi pembantunya di Luwuk sebagai guru bantu selama tiga tahun. Setelah selesai mengajar di Luwuk, saya pun berkeinginan kembali ke Palu, tapi sewaktu singgah di Poso, saya ditahan untuk menjadi imam masjid di kota itu dari tahun 1941 sampai 1942.
Ketika itu masih bujang?
Ya, masih bujang, belum kawin. Dua tahun di Poso menjadi imam dan juga mengajar. Begitu saya tinggalkan Poso, sudah ada pengganti dari Gorontalo. Saya kembali ke Palu, maka belajar lagi di Alkhairaat, kemudian tahun 1949 saya diangkat menjadi guru di Manado, yaitu selama tiga tahun. Setelah itu, saya belum pulang, tapi langsung ke Sangir Talaud menggantikan guru yang sudah berhenti, namanya ustad MS.Patimbang, dia tinggalkan Sangir karena ingat anaknya di Palu, maka saya menggantikannya. Saya di Sangir Talaud selama dua tahun. Kemudian kembali ke Palu yang selanjutnya saya diangkat menjadi pegawai Kantor Agama Kabupaten Donggala tahun 1952. Saya cukup lama bekerja di Depag, pensiun tahun 1979.
Adakah pengalaman unik, pernah dimarahi Guru Tua misalnya?
Oh, tidak pernah. Guru Tua, kalau ada kesalahan saya, ia hanya memberitahukan dengan menegur langsung. Tentunya dalam bahasa Arab, sebab seluruh muridnya waktu itu menguasai bahasa Arab.
Apa saja kegemaran Guru Tua di luar sebagai pendakwah?
Hobinya Guru Tua itu adalah menyaksikan permainan sepakbola. Sehingga di sekolah Alkhairaat dulu itu ada sebuah klub sepakbola tahun 40-an, termasuk kakak saya (Abdullah Hay) pemainnya. Bahkan, ia memanggil anak-anak untuk bermain bola, ia turun ke lapangan melakukan koordinasi dan menyaksikan langsung.
Di bidang kesenian bagaimana?
Di bidang kesenian sebagaimana biasa, kan orang-orang Arab kalau kawin, ada Jepeng. Guru Tua sangat senang itu, saya pun demikian, bahkan saya mencipta musik Jepeng. Selain itu, beliau juga seorang penyair yang dikarang sendiri dalam bahasa Arab yang diajarkan pada murid-muridnya, juga syair-syair karya orang lain. Apalagi memang ada pelajaran yang khusus syair yang dihafal, seperti ada syairnya berisi nasehat, seperti begini; “Ilmu itu harus diburu dan menulis itu sebagai ikatannya, jangan hanya dihafal, tapi diikat dengan tali yang kuat.” Maksudnya ditulis agar bisa kau miliki ilmu itu jangan sampai lepas, harus dihafal pula sampai mati.
Tapi, kenapa Guru Tua tidak menulis kitab-kitab pelajaran?
Oh, ya, sebetulnya bisa menulis, sebab kalau menulis di papan tulis bukan main gagahnya tulisannya. Cuma memang tidak menulis buku pelajaran, tapi anak muridnya itu seperti Mahfud Godal, Rustam Arsyad, Qasim Maragau, Abdullah Hay Abdullah itu menulis untuk diajarkan. Bagaimana pun juga Guru Tua itu pandangannya sangat luas, tidak lepas dari soal-soal politik, budaya dan lainnya. Beliau selalu menginginkan semua berjalan dengan baik jangan sampai ada kerusuhan, keonaran partai satu dengan partai lainnya.
Bagaimana posisi Guru Tua terhadap partai-partai yang ada waktu itu?
Guru Tua tidak berpartai, tidak punya partai. Artinya umat Islam harus diingat seluruhnya kalau berpartai, jangan sampai hanya partai tertentu saja nanti. Bagi muridnya, terserah akan pilihan politiknya. Dari Guru Tua sendiri tidak ada menganjurkan, tergantung muridnya, karena Guru Tua ingin mengayomi semua umat.
Hubungan Guru Tua terhadap pemeluk agama lain, bagaimana?
Guru Tua itu sangat menganjurkan, ketika saya tinggal di Poso, beliau menyampaikan untuk bergaul dengan orang Kristen. Saya waktu itu dengan Raja Wongko Talassa (Raja Poso) selalu dipanggil dan sangat baik hubungan saya. Soal agama, lakum diinukum waliyadin: untukmu agamamu, untukku agamaku.
Pengalaman tentang kedisiplinan dengan Guru Tua?
Soal kedisiplinan Guru Tua memang sangat disiplin. Kalau ada sesuatu hal, saya dipanggil, karena saya sebagai pengawalnya lebih sepuluh tahun. Pada saat saya sakit, sebagai pengawal digantikan oleh Syakir Hubaib yang kemudian dipanggil oleh Guru Tua untuk naik haji bersama Hasbullah.
Apakah ada pesan khusus Guru Tua terhadap ustad sendiri?
Ya, ada, waktu saya di Manado; dikatakannya, Anda sekarang harus bekerja baik, karena hubungan manusia ini hanya ada dua. Kalau hubungannya dengan Tuhan baik, maka hubungan baik juga dengan manusia walaupun manusia lain agamanya. Bahkan walaupun manusia yang tidak punya agama, kita harus berhubungan baik, kita harus memberi contoh yang baik sebagai panutan. Dengan demikian, kata Guru Tua mungkin orang akan tertarik dengan kita, itu pesan Guru Tua sama saya.*
Penulis adalah Pemerhati Masalah Sosial dan Budaya
۞
Ψ§ΩΨΩ
Ψ―
ΩΩΩ
Ψ±Ψ¨ّ
Ψ§ΩΨΉٰΩΩ
ΩΩ
۞
-----------------------------------------------------------------------











0 komentar:
Posting Komentar